Magelang-Borobudur-Jogja (Part 2)

Hari ketiga: Jogja

Pagi hari setelah sarapan kita tidak langsung ke Jogja, tapi mampir dulu di kompleks hotel Manohara. Maksudnya mau melihat Borobudur dengan suasana santai sambil ngopi-ngopi di restoran hotel. Memasuki kompleks ini agak ketat pengawasannya. Pada saat mau masuk kita ditanya mau kemana (mula-mula bertanya pakai bahasa Inggris, mungkin penampilan saya kayak bule), saya sampaikan kepada satpam bahwa kita mau mampir ke restoran hotel. Boleh masuk. Nah, memang kita sudah niat mau ke restoran, tapi sebelum ke restoran kita mau berkeliling dulu untuk foto-foto. Karena memang suasana disekitar Manohara bagus dan nyaman. Tapi baru akan mulai foto-foto, tiba-tiba seorang satpam menghampiri dan mengatakan tidak boleh berkeliling karena tadi izinnya buat ke restoran saja. Kita jelaskan bahwa nanti kita akan mampir ke restoran cuma sekarang mau foto-foto dulu. Sayangnya, si satpam tetap tidak mengizinkan dan kami diminta untuk langsung ke restoran. Mungkin mereka pikir kita hanya alasan saja bilang mau ke resto, padahal cuma ingin foto-foto saja sebenarnya. Ya sudahlah, kami mengalah dan langsung balik ke restoran. Untungnya ternyata pemandangan dari restoran sangat cantik, karena langsung berhadapan dengan Borobudur.

Borobudur dilihat dari hotel Manohara

Setelah kurang lebih satu jam kita disana menikmati minuman dan penampakan Borobudur, perjalanan dilanjutkan menuju Jogja. Rute sudah dipilih melewati jalan yang diperkirakan tidak terlalu ramai. Kondisi jalan mulus diselang-seling turunan dan tanjakan. Tidak terlalu berat tanjakannya. Namun demikian di salah satu tanjakan, rantai sepeda salah satu rekan putus. Untungnya kita sudah siap dengan berbagai peralatan untuk mengantisipasi salah satunya kejadian seperti ini. Sambil menunggu perbaikan, rekan yang lain beristirahat sebentar. Kebetulan ditempat itu ada seorang pedagang durian yang sedang berjualan dan pada saat itu teman si pedagang baru saja keluar hutan sambil memikul dua buah durian. Wah, sempat terpikir juga untuk membeli durian jatohan itu, pasti nikmat rasanya. Tapi karena baru saja sarapan dan rencananya akan membeli durian dekat Jogja saja, akhirnya batal rencana tersebut. Eh, kemudian ternyata begitu sudah dekat Joga, warung durian yang kita harapkan tidak buka. Menyesal banget-banget deh kenapa tadi tidak jadi beli.

Perbaikan rantai selesai, perjalanan berlanjut. Sepanjang jalan kita sempat melakukan bermacam kegiatan; mampir di warung bakso, memetik rambutan ditepi jalan (setelah ijin sama pemilik dan dibolehkan makan sepuasnya tanpa bayar), bermain drone, dan shooting video (mudah-mudahan video coming soon). Sempat juga kehujanan sehingga kita berteduh disebuah warung. Saking happy-nya ada yang sambil bernyanyi “Rain drops keep falling on my head”

Durian jatohan dari hutan

Menikmati rambutan langsung dari pohon

Berteduh menanti berhentinya hujan

Hujan mulai reda, gowes dilanjutkan. Sebelum ke hotel kita mampir di resto Jejamuran untuk makan siang. Ciri khas restoran ini adalah berbagai hidangannya disiapkan dengan bahan jamur dan rasanya cukup lezat. Setelah perut kembali penuh, kita langsung mengayuh menuju hotel dan tiba sekitar pukul 16:30.

Rute hari ke 3

Hari itu kita menempuh jarak 42 km. Rute bisa diunduh disini.

Hari ke empat: Candi candi sekitar Jogja

Hari ini adalah hari terakhir sebelum kembali ke Jakarta, dan rencananya kita akan berkeliling mengunjungi candi Prambanan dan beberapa candi disekitarnya dan dilanjutkan makan siang di restoran Kopi Klotok.

Jarak dari hotel menuju Prambanan sekitar 16 km. Kita berangkat setelah sarapan di hotel dan seperti biasa kita cari jalan yang tidak terlalu ramai. Karena kita gowes santai jadi memakan waktu 1,5 jam untuk sampai di Prambanan. KIta tidak masuk ke dalam karena pasti ramai pengunjung dan cuaca agak panas. Jadi cukup memandang candi melalui salah satu restoran disekitar candi sambil menikmati minuman dingin yang segar dan foto-foto tentunya.

Indahnya Candi Perambanan

Satu jam kemudian kita lanjut menuju candi Plaosan yang berjarak sekitar 4 km dari Prambanan. Plaosan merupakan kompleks candi agama Buddha, dimana terdapat sekitar 170 candi di kompleks itu, meskipun tidak semua dalam kondisi utuh. Bangunan ini dibangun pada pertengahan abad ke 9. Konon kabarnya, candi ini merupakan persembahan dari Raja Rakai Pikatan untuk permaisurinya yang beragama Buddha. Sang raja sendiri memeluk agama Hindu. Ada dua kompleks candi yang dibangun yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Di tempat ini kita coba-coba mengambil gambar dengan drone meskipun sudah agak curiga bakalan dilarang juga. Benar dugaan kita, langsung pak satpam datang dan melarang mengambil gambar menggunakan drone tanpa izin. Jadi foto-foto dari luar saja menggunakan kamera konvensional deh. Sebelum lanjut ke Kopi Klotok, kita sempatkan mampir juga di Plaosan Kidul yang tidak jauh letaknya dari Plaosan Lor.

Candi Plaosan Lor

Candi Plaosan Kidul

Perjalanan menuju Kopi Klotok menempuh jarak 17 km dengan kondisi terus menanjak. Dengan ditemani matahari yang cukup terik, rute ini cukup melelahkan. Untungnya kondisi tanjakan cukup sopan, tidak terlalu terjal. Setelah mengayuh 1 jam 45 menit, kita tiba ditujuan. Tamu cukup ramai saat itu, tetapi makanan masih lengkap. Cara menikmati hidangan adalah secara perasmanan, sedangkan jenis hidangannya adalah makanan khas Jawa Tengah seperti sayur lodeh, gudeg dan lainnya.

Selesai makan siang, kembali menuju hotel. Nah, perjalanan pulang ini sangat nikmat, karena melewati turunan sepanjang 13 km. Sepeda tidak perlu banyak digowes karena sudah meluncur dengan sendirinya. “Asyik ya…” begitu komentar dari para ibu-ibu dengan wajah ceria. Beda sekali ekspresinya dibanding saat nanjak sebelumnya. 45 menit kemudian kita sudah tiba di hotel. Sampai hotel istirahat dan malamnya kita menikmati Sate Klatak, yaitu sate kambing yang disajikan tidak menggunakan tusuk bambu, tetapi pakai jari-jari sepeda. Tujuannya supaya sate sempurna kematangannya, sampai kebagian dalam juga. Kembali di hotel langsung bongkar sepeda dan dimasukkan kembali kedalam boks.

Maka selesailah turing santai selama 4 hari di Jawa Tengah. Kerena turing kali ini jaraknya pendek, peserta bisa melakukan banyak kegiatan diperjalanan alias tidak perlu terburu-buru untuk sampai ketujuan. Hasilnya, semuanya sangat menikmati perjalanan selama 4 hari itu.

Rute hari ke 4 sepanjang 52 km

Bagi yang mau download rutenya silahkan disini.

2 Comments

Leave a Reply