Berkunjung ke England dan Scotland, Part 6/Penutup: Loch Ness

Setelah 2 minggu mondok di Chisholme, maka perjalanan bersepeda dimulai lagi. Setelah berpamitan dengan kawan-kawan di CI, sepeda dikayuh menuju kota Edinburgh. Kota ini termasuk kota kondang yang banyak dikunjungi wisatawan. Hari ini saya mengikuti saran Google Maps melewati jalan sepi yang cocok untuk pesepeda, tentunya dengan harus menaklukkan banyak tanjakan juga. Sampai di Edinburgh pada sore harinya. Kota ini terkesan sebagai kota yang ramai dan sibuk, mungkin tidak seramai London, tapi agak mirip tampaknya.

Salah satu sudut Edinburgh

Karena pengalaman di London sebelumnya, dimana tidak semua penginapan punya tempat parkir sepeda, maka saya tidak booking penginapan lebih awal. Saya mau pastikan dulu ada tempat parkir sepeda di hostel, jadi saya go-show saja. Ternyata tidak mudah juga mencari hostel, alias kebanyakan sudah fully booked. Maklumlah kota turis. Kabarnya, apabila sedang berlangsung Edinburgh Festival yang biasa diadakan pada bulan Agustus, maka 3 bulan sebelumnya semua penginapan disana sudah habis dipesan. Akhirnya, saya coba beranikan diri tanya harga kamar di hotel, ternyata cukup mahal, saya urungkan niat menginap di hotel. Setelah cukup lama berkeliling mencari, akhirnya ketemu juga hostel yang belum full dan tersedia tempat parkir sepeda. Tapi cuma ada buat satu malam, padahal rencana saya akan tinggal 2 hari disini. Ya sudah saya ambil saja dulu untuk malam ini, sambil nanti atur rencana lagi.

Hostelnya sendiri memang kelihatan sangat sibuk dengan pengunjung dari berbagai negara. Kota Edinburgh ini memang sangat populer ternyata. Pengunjung hostel kebanyakan anak muda. Mungkin karena hostel ini bergandengan dengan bar berikut DJ-nya. Suasana yang sempat saya rekam pada sore itu bisa dilihat di video dibawah ini.

 

Saya dapat kamar yang berisi 8 orang, semua penghuninya kawula muda. Setelah membereskan tempat tidur dan mandi, saya turun kebawah untuk mengisi perut. Sekitar pukul 20.00 kembali ke kamar dan bersiap untuk istirahat. Sementara saya siap-siap mau tidur, justru kebalikannya dengan anak-anak muda yang sekamar dengan saya. Mereka malah sedang bersiap akan pergi mencari hiburan, mungkin clubbing. Pasti pulangnya pagi nih. Akhirnya, tinggal saya sendirian di kamar, untung juga sih.

Saya berpikir untuk rencana selanjutnya, apakah besok akan mencoba mencari penginapan yang lain atau melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Karena besok saya harus check-out, jadi kalau saya mau jalan-jalan keliling kota, terpaksa saya lakukan dengan sepeda yang penuh dengan barang. Kemudian saya juga harus mencari penginapan lagi untuk malamnya, yang belum tentu tersedia yang cocok. Tidak praktis. Maka saya putuskan untuk lanjut ke Fort William besok dengan naik kereta api.

Pukul 4 pagi bangun bersiap mengejar KA jam 7, sementara para anak muda itu baru kembali ke kamar dengan kondisi agak mabuk. Perjalanan kereta api menuju Fort William menyuguhkan pemandangan yang indah, khususnya setelah melewati Glasgow. Di kereta api sempat berkenalan dengan seorang yang juga akan berkelana dengan sepeda dan sepasang suami istri dari Belanda. Topik obrolan kita; berbagai hal tentang sepeda dan kisah sejarah Indonesia-Belanda.

Pemandangan indah dilihat dari KA

Tiba di Fort William sudah lewat tengah hari. Fort William adalah kota yang menjadi awal (atau akhir) dari jalur yang disebut Great Glen Way (GGW), jalur yang akan saya lalui dalam beberapa hari kedepan. Jalur ini berjarak sekitar 127 km menyusuri dua danau besar yaitu Danau Lochy dan Danau Ness (lebih dikenal dengan Loch Ness), dan berakhir di kota Inverness. Kedua danau ini dihubungkan dengan terusan yang dinamakan terusan Caledonia (Caledonian Canal). Jalur ini banyak digunakan para hiker dan pesepeda dan jalur ini sebagian besar bebas dari kendaraan bermotor. Saya sempat bertemu dengan beberapa hiker. Ternyata kegiatan ini cukup populer dibelahan dunia sini. Mereka berjalan sejauh ratusan kilometer selama berhari-hari.

Setelah turun dari kereta, saya langsung mencari restoran karena belum sempat sarapan hari ini. Selesai makan, mampir di supermarket untuk membeli perbekalan. Menjelang sore hari perjalanan di GGW dimulai dengan menyusuri Caledonian Canal. Selama diperjalanan sempat melihat bagaimana kapal menyusuri kanal ini melalui beberapa pintu dengan ketinggian permukaan air yang berbeda.

Karena memulai perjalanan ini sudah menjelang sore, saya hanya menempuh jarak sekitar 15 km sebelum kemudian mencari tempat camping yang enak buat malam ini. Disepanjang jalur ini sudah disediakan beberapa tempat camping tidak berbayar. Tapi tidak ada fasilitas kamar mandi, jadi cuma tempat mendirikan tenda. Setelah menemukan tempat yang cocok, langsung mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam ala kadarnya. Disekitar saya ada beberapa hiker yang bermalam juga dan kami sempat bincang-bincang sambil makan sebelum tidur.

Fasilitas lahan untuk mendirikan tenda

Keesokan hari perjalanan dilanjutkan menuju Fort Agustus yang berjarak sekitar 50 km. Suasana perjalanan menyusur kanal dan melewati hutan sungguh sangat berkesan. Tiba ditujuan sekitar pukul 4 sore dan langsung menuju camping ground untuk bermalam. Suasana perjalanan seperti video berikut ini.

 

Fort Agustus merupakan kota kecil yang terletak disebelah ujung bawah Loch Ness. Danau yang terkenal dengan legenda monsternya. Saya sering mendengar cerita legenda tersebut sejak kecil, dan pada saat saya berada langsung disana, rasanya antara percaya dan tidak percaya. Apalagi saat itu danau sedang diselimuti kabut tipis yang membuat susana menjadi lebih misterius. Sempat juga saya bertemu dengan seorang yang bernama Steve Feltham, yang sudah berburu monster Loch Ness selama 27 tahun. Dia memilih untuk tinggal dalam sebuah caravan ditepi danau itu. Silahkan kunjungi blog-nya http://nessiehunter.co.uk/Β .

Bersama Steve Feltham

Loch Ness yang diselimuti kabut, menambah suasana misteri.

Pagi harinya, saya melanjutkan perjalanan menuju Inverness, tujuan terakhir saya. Sayangnya saya salah mengambil rute pada hari ini, akibatnya saya harus menempuh jalan yang cukup ramai. Tapi tidak terlalu masalah juga karena umumnya pengemudi disini menghormati pesepeda. Walaupun beberapa orang sempat terkagum-kagum sambil khawatir juga karena saya sebagai orang asing berani melalui jalur itu. Kalau mereka pernah gowes di Jakarta mungkin tidak akan heran juga sihπŸ˜€. Perjalanan menuju Inverness menempuh jarak 50 km, tapi karena rutenya banyak tanjakan dan cukup melelahkan, maka saya bagi dalam 2 hari. Menginap semalam (camping) di Drumnadrochit (agak susah memang namanya).

Tiba di Inverness hari berikutnya sekitar tengah hari, pas jam makan siang. Karena telah berhasil mencapai tujuan, maka saya berniat merayakannya. Kebetulan menjelang masuk kota saya melihat sebuah restoran dengan spesialisasi steak. Sepeda diarahkan kesana dan pesan sepotong Sirloin steak. Nikmat betul rasanya, ya pastilah karena selama ini kebanyakan makan roti dan mie instan saja.

Berhasil mencapai Inverness

Setelah kenyang, saatnya mencari penginapan. Tidak jauh dari restoran, ada sebuah tempat camping tapi hanya khusus untuk camper van/caravan, bukan untuk tenda. Mereka juga menyediakan caravan yang bisa disewa. Harganya tidak murah tapi tidak terlalu mahal juga, οΏ‘50/malam. Tapi minimal harus 3 malam. Saya pikir-pikir, toh ini sudah sampai tujuan bolehlah ambil yang agak mewah (dibanding tenda). Caravan-nya kurang lebih sebesar sebuah container, tapi isinya cukup lengkap dan bisa dihuni 4 orang. Jadi kalau pergi berempat jatuhnya bisa murah juga. Ada dapur lengkap dengan kompor, microwave dan kulkas beserta sendok garpu, panci, dan lainnya. Kamar mandi shower dengan air panas. Ruang duduk yang dilengkapi pemanas dan TV. Pokoknya ini tempat paling nyaman yang pernah saya rasakan dalam perjalanan ini.

Ruang santai

Pemanas diruang duduk/santai

Dapur kecil tapi lengkap

Selama 3 hari dengan santai saya nikmati kota Inverness yang tidak terlalu besar tapi indah. Kotanya penuh dengan bangunan-bangunan kuno, tidak hiruk pikuk dan bersih tentunya. Benar-benar kota yang nyaman dan secara tidak sengaja memang tepat saya pilih menjadi kota penutup untuk mengakhiri sebuah perjalanan. Kalau ada waktu dan rezeki, rasanya ingin mengunjungi kota ini lagi.

Sampai jumpa diperjalanan berikutnya πŸ–Β πŸ–Β πŸ–

Sungai Ness yang mengalir ditengah kota

Sungai Ness dari sudut berbeda

Rumah jadoel yang masih terpelihara dengan baik dan masih dihuni

Cafe sepeda

Inverness Castle

2 Comments

Leave a Reply