Berkunjung ke England dan Scotland, Part 5 : Chisholme Institute

Pagi ini saya bersiap untuk menuju Chisholme Institute (CI), sesuai dengan jadwal kedatangan saya kesana yaitu 1 September. Sebelum berangkat, chatting dulu dengan keluarga dirumah untuk mengucapkan selamat Idul Adha, yang tahun ini jatuh di 1 September. Eh…ternyata mereka bilang kan masih besok. Lah, rupanya saya lupa kalau hari itu masih 31 Agustus. Langsung deh buru-buru email ke CI, bertanya apakah saya bisa datang lebih awal. Jawabannya; silahkan datang.

Seperti jalanan di Scotland pada umumnya, hari ini diisi dengan tanjakan dan turunan. Walaupun jarak tempuh hanya 30 km, tapi cukup melelahkan juga. Saya tiba sekitar tengah hari dan disambut dengan sangat baik oleh salah satu staf disana, Ms. Isabel, yang nantinya akan jadi sahabat saya selama disana. Makan siang juga langsung disiapkan. Kebetulan sekali karena dari pagi memang belum sempat sarapan. Selesai makan siang, mengurus masalah administrasi dan setelah itu diajak berkeliling untuk mengenal CI.

Chisholme House

CI adalah sebuah institut yang mempelajari dan mendalami esensi kehidupan melalui pemikiran-pemikiran para filosof ternama. CI terutama banyak mendalami pemikiran dari filosof Islam seperti Muhyiddin Ibnu Arabi (biasa dikenal juga sebagai Ibn Arabi), Jalaluddin Rumi (Rumi) dan lainnya. Pengaruh Islam sangat terasa begitu saya memasuki CI. Hampir di setiap dinding bangunan utama tergantung kaligrafi Islam, yang merujuk kepada ayat-ayat dalam Al Quran. Saya benar-benar heran menyaksikan sebuah institut di sebuah kota kecil di Scotland yang dikelola oleh staf yang asli orang-orang Inggris (bule) dan bukan muslim, tapi menampilkan susana Islami. Hal ini sebenarnya bisa dipahami karena salah satu pendiri CI adalah seorang Turki bernama Bulent Rauf. Sejarah CI bisa dibaca di http://www.chisholme.org/about/history.html

Sepanjang tahun, CI memiliki beberapa program belajar untuk semua kalangan. Programnya bisa untuk jangka pendek (satu minggu) ataupun jangka menengah (40 hari). Walaupun mendalami pemikiran para filosof Islam, CI bukan sekolah agama Islam. CI terbuka untuk semua orang. Penekanan-nya adalah pada nilai-nilai universal yang akan meningkatkan kwalitas hidup manusia pada umumnya. Paling tidak itulah kesan yang saya rasakan. Mudah-mudahan tidak salah. Ketika saya disana, sedang berlangsung program satu minggu. Saya sempat bertemu dan berkenalan dengan beberapa peserta dari berbagai negara di Eropa dan mendapatkan sedikit pencerahan tentang Ibn Arabi.

Selain program belajar reguler, ada juga program volunteer, dimana peserta bekerja di kampus secara sukarela dengan jangka waktu sesuai dengan keinginan peserta. Selama menjadi volunteer makan dan akomodasi disediakan oleh CI. Kebanyakan yang menjadi volunteer adalah orang-orang dari berbagai negara Eropa. Saya mengikuti program volunteer selama 2 minggu.

Selama disana, umumnya saya bekerja di bagian dapur dan kebun. Kalau di dapur, karena tidak bisa masak, biasanya saya dapat bagian cuci mencuci, ataupun tugas-tugas yang mudah. Sedang di kebun saya pernah panen kentang, apel, merapikan tanaman dan mengurus ayam. Dalam hal makanan, mereka akan usahakan menggunakan hasil kebun sendiri sebagai bahan mentahnya. Secara pribadi, saya lebih suka bekerja di kebun karena suasana yang lebih tenang walaupun secara fisik cukup bikin capek. Suasana dapur biasanya cukup tinggi tingkat stress-nya, karena mereka harus selesai menyiapkan hidangan tepat waktu makan siang/malam, apalagi kalau sedang banyak tamu/peserta program.

Rutinitas harian berjalan seperti berikut; pukul 7 dimulai dengan meditasi selama 30 menit dan dilanjutkan dengan sarapan. Jam 9, mulai bekerja, bisa di dapur ataupun kebun, sesuai kebutuhan. Kalau ada keperluan khusus bisa juga diperbantukan untuk urusan house keeping. Jam 10.30 istirahat selama 30 menit, kemudian lanjut bekerja. Jam 13.00 makan siang sampai jam 14.00. Jam 16.00 kembali isitrahat minum teh. Setelah itu bisa dilanjutkan bekerja jika masih ada yang perlu dibereskan, atau bisa juga lanjut dengan acara belajar, khusus untuk volunteer dan staf (sesuai jadwal). Nah, kegiatan belajar inilah yang sangat saya nikmati, karena dapat mengetahui sedikit banyak pemikiran para filosof Islam pada masa ratusan tahun lalu. Walaupun bukan hal yang mudah untuk memahami jalan pikiran mereka. Selanjutnya makan malam akan dimulai jam 19.00. Setelah selesai, kalau sudah lelah bisa langsung tidur, atau bila masih ada tenaga bisa membantu membersihkan meja makan, cuci piring sambil ngobrol. Hal yang membuat saya kagum juga adalah bahwa untuk kelangsungan semua kegiatan disana, maka semua orang, baik staf, volunteer dan siswa, selalu siap bersama-sama bekerja saling membantu dengan sukarela.

Jadi petani kentang

Jadi Tukang Kayu

 

Mengurus Ayam

Buah Apel yang siap dipanen

Ruang tidur selama disana

Setiap Kamis (malam Jumat) ada acara zikir. Dalam rangka persiapan zikir ini, setiap hari Kamis seluruh penghuni CI akan bekerja membersihkan kampus setelah “tea break” pukul 16.00. Zikirnya sendiri akan dimulai setelah makan malam yaitu pukul 21.00. Menyaksikan para bule berzikir dan bersalawat merupakan pemandangan yang sangat unik, terlebih lagi mereka bukan penganut Islam. Zikir juga diadakan pada tanggal yang khusus seperti terlihat di foto dibawah ini. Acara zikir ini tidak wajib sifatnya, jadi terserah saja mau ikutan atau mungkin ada yang sudah kelelahan dapat memilih untuk tidur saja.

Tanggal-tanggal khusus saat zikir dilaksanakan

Tinggal selama 2 minggu di CI, bersama penduduk lokal, merupakan suatu hal yang sangat berharga dan memperkaya pengalaman hidup saya. Suasana desa yang tenang jauh dari kesibukan dan penghuninya yang serba santun benar-benar sangat berkesan. Walaupun harus diakui pekerjaan fisik yang dilakukan selama disana cukup membuat badan menjadi lelah, apalagi buat yang sudah berusia lanjut 😀. Saya juga harus membiasakan diri untuk tidak sering ber-gadget ria. Pertama karena jaringan wifi sangat terbatas, mungkin memang sengaja dikondisikan sedemikian rupa. Selain itu jarang sekali saya lihat orang memegang HP selama disana. Jadi kalau sedang berkumpul, misalnya saat makan siang, mereka lebih banyak saling mengobrol bercerita tentang ini-itu. Jadi kalu mau lihat HP, musti agak sedikit sembunyi-sembunyi, itupun di tempat tertentu yang ada signal☺️. Pada saat harus berpisah dengan mereka setelah 2 minggu, sedih juga rasanya karena walaupun waktunya relatif singkat, tapi persahabatan yang terbina, melalui berbagai aktifitas yang dilakukan bersama, menjadi sangat akrab. Mudah-mudahan bisa bertemu lagi dilain waktu.

Untuk mengenal CI lebih lanjut silahkan lihat disini http://www.chisholme.org/ .

2 Comments

Leave a Reply