Berkunjung ke England dan Scotland, Part 4 : Tantangan Dimulai

Setelah tidur yang nikmat malam sebelumnya, pagi ini saya bangun dengan kondisi segar. Hujan sudah berhenti pagi itu, namun cuaca diluar cukup dingin. Memang sepertinya makin ke arah utara, suhu juga semakin dingin. Suasana ini sering membuat saya malas untuk keluar dari sleeping bag. Tetapi saya sadar hari ini saya akan menempuh jarak sejauh kurang lebih 70 km menuju kota Carlisle. Cukup jauh sehingga jangan sampai terlalu kesiangan berangkat agar bisa tiba di tujuan sebelum gelap. Jadi saya kuatkan semangat untuk bangun dan segera berkemas.

Setelah beres berkemas, kembali sepeda dikayuh. Seperti hari-hari sebelumnya rute yang akan dilewati sudah disiapkan di GPS. Hari ini rutenya sebagian besar akan melalui jalan, yang menurut Google Maps, nyaman untuk pesepeda (meskipun ada juga bagian dimana saya harus melalui highway). Biasanya kita akan dibawa melewati jalan yang bukan jalur utama ataupun memang jalur khusus sepeda. Pokoknya jalan yang tidak terlalu ramai. Walaupun akibatnya jarak yang ditempuh bisa jadi akan lebih jauh jika dibandingkan apabila melalui jalan utama. Maksud saya mengambil rute ini karena saya merasa akan lebih aman. Sebetulnya sepeda diperbolehkan melewati jalan raya utama (asal bukan jalan tol), cuma saya masih agak takut karena masih belum terbiasa dengan suasana jalan diluar kota.

Perjalanan melalui rute sepi tersebut memang terbukti nyaman. Tidak banyak mobil alias sepi. Tetapi karena jalurnya melalui desa-desa kecil yang terletak agak dipedalaman, maka kontur jalannya banyak tanjakan dan turunan. Tentunya yang masalah adalah tanjakan. Apalagi dengan sepeda yang membawa beban cukup berat, yaitu sekitar 30 kg. Alhasil, jarak sekitar 70 km hari ini saya lalui dengan cukup menguras tenaga dan ditempuh dalam waktu sekitar 9 jam. Saya tiba di Carlisle sekitar pukul 6 sore. Belum gelap karena pada saat itu (akhir Agustus 2017) matahari terbenam sekitar pukul 8.

Rute menuju Carlisle

Profil elevasi yang cukup menantang

Google Maps akan membawa pegowes melalui jalan-jalan sepi seperti ini

 

Meskipun tidak jarang harus melalui tantangan seperti ini

Jalan khusus pejalan kaki dan pesepeda seperti ini sering kali diberi pintu. Awalnya saya kaget karena saya pikir saya harus putar balik. Ternyata pintunya tidak terkunci dan tinggal didorong saja. Untuk kasus diatas saya agak ragu-ragu mau mendorong pintunya, takut si kambing marah dan menyeruduk. Jadi saya tunggu sampai dia pergi baru saya buka pintunya.

Untungnya, malam ini saya akan menginap di sebuah hotel setelah sekian hari sejak tiba disini selalu tidur didalam tenda ataupun hostel. Hotelnya sudah booking dari Jakarta dan mungkin karena di kota kecil harganya juga relatif murah, yaitu sama dengan harga menginap di sebuah hostel di London, sekitar £20/malam. Hanya saya khawatir jangan-jangan tidak tersedia parkir sepeda yang aman. Setelah tiba dan urusan check-in beres, saya tanya dimana tempat parkir sepeda yang aman. Dengan manisnya si mbak mempersilahkan saya memarkir sepeda didalam ruang resepsionis….ah lega rasanya. Malam ini tidur di kamar hotel yang hangat benar-benar merupakan suatu kemewahan ?.

Nikmatnya tidur dikamar hotel

Sarapan yang nikmat

Setelah selesai sarapan di keesokan harinya, perjuangan dimulai lagi. Hari ini saya mengarah ke sebuah kampung kecil yang bernama Mosspaul. Menurut Google Maps, disana ada camping ground dan rencananya saya akan menginap disana. Jaraknya sekitar 50 km. Sebetulnya jarak ke Chisholme Institute tinggal 80 km, tetapi karena jadwal kedatangan saya adalah 1 September dan hari itu masih tanggal 30 Agustus, maka saya putuskan untuk menginap dulu di Mosspaul.

Setelah pengalaman hari sebelumnya melalui jalan sepi tapi penuh tanjakan, maka hari ini saya berniat akan melalui jalan utama saja. Lagipula letak Mosspaul memang diatas bukit, jadi saya sudah memperkirakan hari ini akan penuh perjuangan. Namun saya pikir yang namanya jalan utama biasanya dibuat sedemikian rupa, sehingga meskipun mendaki daerah pegunungan akan diusahakan tanjakannya dibuat agak gradual sehingga dapat dilalui kendaraan dengan mudah. Hari itu saya sudah mempersiapkan mental untuk melalui jalan yang ramai dimana mobil-mobil akan melaju cukup kencang.

Menuju arah keluar kota Carlisle kondisi jalan cukup ramai oleh mobil dan truk. Kecepatan mereka pun cukup kencang yang membuat saya jadi agak cemas. Tetapi setelah beberapa lama saya mulai mengamati ternyata mereka selalu memberi ruang yang cukup aman buat pesepeda, jadi setiap akan melalui saya, mereka mengarahkan mobilnya agak kekanan, menjauh dari tepi jalan. Demikian juga dengan truk, tapi karena kendaraan besar, tetap saja saat disusul truk, apalagi yang gandengan, rasanya cukup menegangkan juga (lihat video).

 

Begini caranya jika mobil akan menyusul pesepeda. Mobil akan diarahkan agak kekanan. Apabila dari arah berlawanan ada mobil, maka mereka akan menunggu dibelakang pesepeda dengan sabar tanpa membunyikan klakson dan baru akan menyusul apabila sudah memungkinkan.

Semakin jauh dari kota, jalanan mulai sepi dan saya merasa agak lega juga. Sesuai perkiraan perlahan-lahan jalan mulai menanjak dan sesuai perkiraan juga tanjakannya agak landai, tidak curam. Sekitar tengah hari saya meninggalkan England dan masuk ke Scotland. Sekitar jam 15.30 saya tiba di camping ground di Mosspaul, setelah bersepeda selama kira-kira 6 jam 30 menit. Langsung ketok pintu ke pemiliknya dan ternyata hari itu cuma saya tamunya. Jadi saya boleh pilih lokasi sesuai selera saya. Saya pilih lokasi yang agak private karena tempatnya dikelilingi pagar batu yang khas Scotland dan menhadap ke bukit.

Lokasi kemah yang dibatasi pagar batu khas Scotland

Setelah mandi dan santap malam, sambil menunggu kantuk saya menonton video. Tempat camping ini menyediakan DVD player beserta videonya secara gratis yang bisa dibawa ke tenda. Lumayan juga untuk hiburan sebelum tidur. Selesai menonton saya keluar sebentar dan ternyata malam itu langit sangat cerah sehingga terlihat bintang-bintang, walaupun suhu cukup dingin, sekitar 5ºC. Langsung saja saya ambil kamera dan coba-coba foto bintang dilangit. Hasilnya lumayan lah ?. Beruntung ada sleeping bag yang cukup tebal, sehingga meskipun diluar sangat dingin, tapi saya bisa tidur dengan cukup hangat malam itu.

 

2 Comments
  1. Wah perjalanan yang luar biasa. Memang bersepeda di eropa jauh lebih nyaman dibandingkan di Indonesia. Dari segi cuaca tidak terlalu panas dan kultur pengguna jalan yang sangat menghargai pesepeda membuat perjalanan menjadi lebih nyaman.

    Salam kenal, kebetulan saya bekerja kurir sepeda di Frankfurt.

    • Betul Mas…nyaman sekali gowes disana. Kadang2 malah suka ga enak sendiri begitu liat mobil antri dibelakang kita.

      Terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Mudah2an nanti ada waktu dan rezeki saya bisa ke Frankfurt dan sekitarnya.

Leave a Reply