Berkunjung ke England dan Scotland, Part 3: London

Setelah beres berbenah semua perlengkapan camping, saya mulai mengayuh sepeda saya menuju London. Hari ini (26 Agustus 2017) udara cerah dan hawanya sejuk. Bahkan sejak saya tiba di England beberapa hari yang lalu, cuaca selalu cerah. Perjalanan menuju London sejauh 30 km berjalan lancar. Di London saya sudah booking hostel untuk 2 malam dan lokasinya ditengah kota. Harga per malam sekitar GBP 20 untuk 1 orang. Rencananya, saya akan keliling kota London dengan bersepeda untuk mengunjungi tempat-tempat yang menarik.

Setiba di tujuan, langsung check-in dan bayar. Lalu saya tanya dimana bisa parkir sepeda di hostel ini. Si resepsionis bilang wah maaf tidak ada fasilitas parkir sepeda. Wah gawat nih. Saya coba negosiasi dengan mencoba memberi alternatif tempat yang sepertinya bisa buat parkir sepeda dan masih dekat lingkungan hostel itu. Tapi selalu dijawab tidak bisa sebab melanggar aturan. Sayangnya si mbak resepsionis tidak mencoba mencari solusi yang tepat, dia cuma bilang tidak bisa saja. Satu-satunya alternatif cuma parkir di tempat parkir sepeda yang ada di tepi jalan dan lokasinya agak jauh dari hostel. Sebetulnya saya sangat tidak nyaman dengan solusi ini, terutama untuk malam hari saat ditinggal tidur, tapi tidak ada pilihan. Orang-orang yang saya tanya umumnya bilang kalau di tengah kota biasanya cukup aman karena dipantau CCTV. Untunglah, selama 2 malam parkir disitu sepeda saya aman-aman saja. Karena pengalaman ini, maka untuk selanjutnya selama disana saya tidak pernah booking penginapan bila akan mengunjungi kota besar seperti London. Lebih baik saya go-show saja dan pastikan tersedia tempat parkir sepeda yang aman.

Parkir sepeda tepi jalan yang bikin deg-degan

Sekedar informasi, hostel adalah sebuah penginapan dimana satu kamar diisi oleh banyak penghuni, sekitar 5 sampai 10 orang per kamar. Biasanya ada 2 jenis kamar, yaitu yang khusus untuk wanita dan yang campur. Saya tinggal di kamar yang campur. Jenis akomodasi seperti ini sangat populer dikalangan pelancong muda, mungkin karena harganya relatif murah. Disamping itu juga bisa menjadi sarana sosialisasi, dimana para pelancong yang tinggal dalam satu kamar dapat bertukar cerita dan pengalaman. Umumnya, tersedia satu ruangan yang biasa disebut “common room”, yaitu ruangan buat para penghuni berkumpul sambil minum teh atau kopi, atau bisa juga untuk memasak makanan. Fasilitas piring, gelas dan alat memasak disediakan buat tamu, dan jangan lupa untuk mencuci sendiri alat-alat tersebut setelah dipakai.

Selama dua hari disana saya mengunjungi tempat-tempat yang khas London, seperti Big Ben, Buckingham Palace, Parliament Building dan lainnya. Ternyata sangat mengasyikan berkeliling London dengan sepeda. Saya tidak perlu khawatir soal aturan lalu lintas karena sepeda dapat masuk kemana saja setiap saat. Tidak seperti mobil yang sepertinya ada jam-jam dimana mobil dilarang melewati area tertentu. Soal parkir tidak membuat kita pusing, tinggal parkir didepan tempat yang akan kita kunjungi, tetapi jangan lupa dikunci, dan tanpa perlu bayar.

Big Ben

Dari sudut yang beda

Gedung Parlemen

Buckingham Palace

Didepan resto yang sempat heboh

Seperti yang saya ceritakan diawal, saya akan menjadi tenaga sukarela di Chisholme Institute (CI) dan mulai bekerja tanggal 1 September. Dari London menuju CI jaraknya sekitar 650 km dan saat itu sudah tanggal 28 Agustus, jadi ada sisa waktu 4 hari. Tapi saya tidak yakin bisa menempuh jarak tersebut dalam 4 hari, tetapi dilain pihak sayang juga kalau tidak merasakan bersepeda ke CI. Jadi saya ambil jalan tengah yaitu naik kereta api sampai Lake District, kemudian bersepeda dari sana menuju CI yang jaraknya sekitar 150 km. Tentunya tidak ditempuh dalam 1 hari.

Kereta yang akan saya tumpangi berangkat jam 8 pagi, maka pagi-pagi sekali saya sudah meninggalkan tempat penginapan, yaitu sekitar jam 5. Maklum, karena belum punya pengalaman naik KA disini jadi saya sengaja datang jauh sebelum waktu keberangkatan, khawatir kalau nanti ada masalah di stasiun karena saya membawa sepeda dengan bawaan yang cukup banyak. Saya cuma pernah baca informasi bahwa sepeda dapat diangkut kedalam KA asalkan sudah bikin reservasi (sepeda gratis). Di stasiun saya tanya-tanya sama petugas sambil tunjukan tiket beserta reservasi sepeda dan mereka bilang sudah oke, tinggal tunggu jam keberangkatan saja. Disini 15 menit sebelum berangkat baru diumumkan nomer peron tempat kereta akan diberangkatkan, jadi kita harus mengamati papan informasi untuk tahu peron yang harus kita tuju. Kalau tempatnya agak jauh kita musti jalan cepat atau agak berlari supaya tidak ketinggalan. Proses naik KA berjalan lancar termasuk urusan mengangkut sepeda keatas gerbong khusus sepeda. KA nya juga sangat nyaman. Perjalanan menuju Lake District sekitar 3 jam, jadi saya bisa santai dulu sambil terkantuk-kantuk diatas KA.

Menunggu keberangkatan KA

Tempat sepeda diatas KA

KA yang nyaman

Sampai di Lake District, tepatnya di kota Windermere, saya melanjutkan bersepeda menuju tempat camping malam ini. Jaraknya sekitar 15 km dari kota Windermere. Kota Windermere sendiri adalah kota kecil yang indah dengan bangunan-bangunan kuno (lihat video dibawah ini). Sepertinya kota ini adalah kota tujuan wisata.

Sore hari saya tiba di camping ground di tepi sebuah danau dengan cuaca yang mulai mendung. Segera saya dirikan tenda karena takut keburu hujan, dan kemudian menyiapkan santapan malam yaitu mie instan ?. Setelah perut terisi, kantuk pun datang. Tidur malam itu, didalam sleeping bag yang hangat dengan diiringi suara hujan yang turun diluar, menjadi nikmat sekali.

Leave a Reply