Berkunjung ke England dan Scotland, Part 1

Tanggal 23 Agustus 2017, saya meninggalkan tanah air menuju kota London. Tujuan turing kali ini adalah England dan Scotland, keduanya tergabung dalam Inggris Raya. Berbeda dengan turing sebelumnya, kali ini saya berkelana sendirian. Alasannya, pertama karena memang ingin merasakan solo touring, kedua, saya juga akan menjadi pekerja sukarela (volunteer) di sebuah institut di Scotland. Nama institutnya Chisholme Institute yang mempelajari pemikiran filosof-filosof ternama, dan khususnya pemikiran dari Ibnu Arabi. Mengenai biaya, kita pasti sudah maklum bahwa biaya hidup di Inggris ini sangat mahal. Oleh sebab itu saya sudah bertekad akan berusaha menekan biaya turing ini semaksimal mungkin. Untuk akomodasi saya akan menggunakan camping ground atau hostel. Sedangkan untuk makan sedapat mungkin jangan terlalu banyak mampir di restoran. Lebih murah beli makanan di supermarket.

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 18 jam, saya tiba di London pada tanggal 24 Agustus sekitar jam 7.00 pagi. Langsung diarahkan ke pemeriksaan imigrasi khusus untuk pendatang yang bukan berasal dari Eropa/Amerika. Antriannya sangat panjang, saya harus mengantri sekitar 2 jam. Setelah beres urusan imigrasi langsung saya ketempat pengambilan bagasi sambil berdoa mudah-mudahan sepeda masih utuh. Saya cari sepeda di bagian “oversize baggage”, wah ternyata kok tidak ada. Saya kelilingi seluruh area pengambilan bagasi, dan tidak ketemu juga. Saya lapor ke kantor Qatar Airways bagian urusan bagasi. Setelah saya berikan tag bagasi, mereka langsung saling komunikasi untuk cari tahu apa yang terjadi dengan sepeda saya. Namun anehnya tidak ada laporan khusus soal sepeda saya. Artinya harusnya tidak ada masalah. Petugas Qatar juga bingung bagaimana kok barang tidak ada tapi tidak ada laporan (dia juga sudah keliling-keliling cari bagasi saya). Mereka sarankan saya untuk pergi saja ke hotel dan nanti mereka akan hubungi saya jika ada perkembangan, sekaligus mereka bilang sebaiknya beli nomer HP lokal agar mudah untuk komunikasi. Padahal hari itu saya akan menginap di camping ground, bukan hotel, sementara tenda ada di dalam box sepeda. Wah…gawat nih, rencana bakal berantakan kalau begini. Saya masih penasaran, saya kelilingi lagi area bagasi sekali lagi dan ternyata masih tidak ada tanda-tanda sepeda saya. Saya agak khawatir untuk keluar dari area itu, karena saya pikir akan sulit untuk masuk kembali karena pasti mereka akan sangat ketat untuk urusan security. Jadi saya putuskan untuk duduk dulu disitu sambil berpikir apa yang sebaiknya saya lakukan. Setelah agak lama pikir-pikir, saya ambil keputusan untuk membeli nomer lokal agar komunikasi lebih mudah. Saya tanya sama petugas Qatar dimana saya bisa beli SIM card dan apakah nanti saya boleh masuk kembali. Sang petugas menunjukkan dimana toko yang menjual SIM card dan juga menjelaskan bagaimana caranya agar bisa masuk kembali kedalam. Sebelum keluar saya lihat sekali lagi area sekeliling….. dan tampak dikejauhan saya lihat box yang mirip dengan box sepeda saya. Muncul sedikit harapan di hati. Dengan harap-harap cemas saya berjalan mendekati box itu, makin dekat semakin yakin kalau itu memang sepeda saya. Saya melangkah makin cepat, dan syukur alhamdulillah itu ternyata memang sepeda saya. Ah, akhirnya ketemu juga. Entah apa yang terjadi sehingga bagasi saya terlambat muncul, saya lapor ke petugas bahwa bagasi sudah ketemu dan langsung keluar.

Bagasi yang sempat menghilang

Setibanya diluar, langsung bongkar box dan mulai bekerja merakit kembali sang sepeda dan menata barang-barang bawaan.

Merakit sepeda di bandara Heathrow

Ready to go

Setelah beres, saya bersepeda santai dari bandara menuju tempat penginapan malam ini di Laleham Camping Club yang berada di dekat kota Staines. Jaraknya sekitar 10 km dari bandara Heathrow. Sedang dari pusat kota London jaraknya sekitar 30 km.

Suasana Laleham Camping Club

Home sweet home…?

4 Comments

Leave a Reply